17.54 -
SAOTIK SEJARAH PURAJALAGUBOTI
PARDUNDANG adalah gelar PURAJA LAGUBOTI putra bungsu dari SIPAETTUA. Ia seorang pekerja keras , ulet ,sabar dan telaten.
PURAJALAGUBOTI menikah dengan (Putri Radja Pasaribu), dan bekerja sebagai pedagang . Ia berdagang dari tempat persinggahan ketempat persinggahan berikutnya,dari Laguboti ke Balige,Tarutung,Sibolga,Barus dan daerah lainnya disekitar Toba. Setiap ada Pokkan , Ia sudah memiliki lapak disana, sehingga orang menyebutnya PARONAN NA GODANG.
Berkat kerja kerasnya , Ia menjadi kaya karena diberkati Tuhan.Ia memiliki sawah , ladang yang luas .Mempunyai banyak harta ,ternak kerbau,babi dan mempunyai banyak hasil panen padi,bawang,kacang , sehingga orang menyebutnya (PURAJA LAGUBOTI ).
Adapun boru Pasaribu (istri PURAJA LAGUBOTI) sudah lama belum punya anak. Berkatalah boru Pasaribu kepada PURAJA LAGUBOTI.
Boru Pasaribu berkata : “Engkau tahu, kita sudah lama menikah, namun Tuhan belum memberikan keturunan kepada kita. Karena itu, baiklah engkau menikah lagi , mungkin oleh dialah aku memperoleh anak.supaya ada ahli waris kita kelak.”
Puraja Laguboti menjawab : “Aku setuju, kalau hal itu kau pandang baik.Tapi kau harus janji, jika kelak Ia melahirkan anak . kau harus anggap sebagai anak kandung mu sendiri.” Dan jika kelak engkau melahirkan anak, maka anak yang engkau lahirkan menjadi Anak Panggoaran”.Boru Pasaribupun menyanggupinya.
PurajaLaguboti pergi berkelana, bertemu dengan seorang gadis cantik dan baik hati (Putri Radja Sitorus).
Puraja Laguboti menikahi (Putri Radja Sitorus), mengandunglah (Putri Radja Sitorus), lalu melahirkan anak dan di beri nama HUTAPEA.
Setelah Hutapea lahir, Putri Radja Pasaribu menepati janjinya, mengasuh dan memperlakukan HUTAPEA sebagai anak kandungnya sendiri.
Kemudian, Putri Radja Pasaribu hamil, lalu melahirkan anak dan di beri nama PANGARIBUAN. Putri Radja Sitorus merawat Pangaribuan dengan penuh kasih sayang seperti anaknya sendiri.
Berkatalah Puraja Laguboti kepada ke dua istrinya demikian : "Hai istri PURAJA LAGUBOTI, dengarkanlah perkataanku ini, meskipun HUTAPEA duluan lahir, tetapi PANGARIBUAN lah Anak Panggoaran. Karena PANGARIBUAN lahir dari istriku yang pertama”. Sehingga HUTAPEA menyebut hahadoli kepada PANGARIBUAN”
Untuk mengikat perjanjian ini, PURAJA LAGUBOTI ber ikrar dan mengucapkan umpasa sbb :
"SEAK-SEAK PANGGARUAN
HUTAPEA PANGARIBUAN,
SISADA ANAK SISADA BORU
TUNG NASOJADI MARSIOLIAN"
KAMUS BAHASA BATAK :
PARDUNDANG (Sae do holan hata manggarar utang) artinya cukup hanya seucap kata membayar hutang
SEAK-SEAK adalah tempurung/batok kelapa
PANGGARUAN adalah tempat minuman suku Batak dahulu sebelum bangsa Cina memproduksi mangkok atau Gelas/keramik sebagai tempat minum.
ANAK PANGGOARAN adalah panggilan orangtua, contoh : Amani David atau Nai David
HAHADOLI orang yang dituakan secara adat Batak
